Minggu, 13 Mei 2012

contoh proposal"

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah               
Di era yang serba modern ini, berbagai taman kanak-kanak dan tempat  penitipan anak yang telah berkembang maju segi pembelajarannya, kegiatan  extrakurikuler, ataupun fasilitas yang menunjang proses pembelajaran. Pemilihan  strategi pembelajaran dalam kegiatan  belajar mengajar harus diutamakan. Hal  tersebut akan menentukan berhasil dan tidaknya pembelajaran yang hendak  dicapai. Di lingkungan keluarga pun para  orang tua juga harus memperhatikan  strategi pembelajaran yang tepat untuk anak-anaknya, sebab keluarga merupakan  pendidikan pertama dan utama yang didapat anak pada usia dini. Kesibukan  orangtua dengan pekerjaanya menjadikan alasan mengabaikan hal tersebut.
Strategi yang dipilih untuk mendidik  anak, hanya sekedar memberikan pesanpesan untuk berperilaku baik, menghormati orang tua, duduk  yang baik, makan  dengan tangan yang baik dan sebagainya. Hal tersebut tidak akan menancap lama  di benak anak-anak usia dini. Apalagi  dalam membina akhlak usia dini, dalam  pergaulan sehari-hari pun juga perlu diperhatikan. Perilaku-perilaku anak usia  dini, seperti selalu ingin berbagi, menolong teman, saling memukul, berebut jajan,  saling mengolok, membenci teman hingga akhirnya menangis. Terkadang hal itu  menjadi pemicu pertengkaran antar orangtua. Sehingga hanya karena masalah  anak dengan anak, orangtua saling bermusuhan. Hal tersebut tidak mengajarkan  anak membedakan perilaku yang baik dan buruk, akan tetapi malah akan  mendidik anak menaruh sikap dendam pada teman sebayanya. Oleh karena itu,  para orangtua harus memberikan suri tauladan yang baik kepada anak-anaknya  sejak dini. Jadi, hendaknya orang tua juga dapat memilih jenjang pendidikan anak  usia dini yang tepat, terutama untuk membina akhlak.
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus  dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif  dan efisien.[1]
 Khususnya di taman kanak-kanak strategi pembelajaran yang  menarik akan membawa keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Di usia dini  (prasekolah) anak harus mendapatkan pendidikan dari lingkungan yang  menyenangkan.
 Masa prasekolah adalah juga masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua  dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga  dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan  time for play.[2]
Pendidikan pada masa ini begitu penting sebab anak pada masa ini disebut juga  mengalami masa keemasan (Golden Age).[3] Anak-anak TK berumur antara 4-6  tahun juga termasuk dalam umur  prasekolah atau dikatakan masih usia  dini. TK merupakan lembaga pendidikan  formal prasekolah. Di TK tidak ada pelajaran membaca, menulis, dan matematika. Jadi, TK itu bukan sekolah, melainkan taman, tempat anak-anak umur 4-6 tahun  bermain. Dengan demikian mereka belajar banyak hal sebagai persiapan untuk  bergaul dalam lingkungannya dan untuk memasuki pendidikan sekolah dasar (SD).[4]
Strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak selama ini dilaksanakan dengan tehnik bermain sambil belajar, belajar sambil bermain. Dari bermain guru  dapat menumbuhkan dan membina akhlak  anak. Model pembinaan akhlak di  Taman Kanak-kanak pada umumnya juga di lakukan dengan tehnik pembiasaan pada anak melalui pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Begitu halnya anak-anak, mereka  berkembang dimulai dari perubahan  secara fisik intelektual, sosial dan emosional, yang terjadi dari lahir sampai  dewasa. Manusia berubah sepanjang hidupnya, tetapi pada masa kanak-kanak,  manusia mengalami perubahan paling dramastis. Berawal dari sang bayi yang tak  berdaya dan bergantung pada orang dewasa, kemudian tumbuh berkembang  menjadi anak muda yang cakap, dan berfikir serta berargumentasi dengan canggih, memilki kepribadian unik, dengan selalu berusaha keras bersosialisasi dengan orang lain. Beragam kemampuan dan karakteristik terbentuk dimasa kanak-kanak mereka.[5]
Mendidik anak adalah dunia yang penuh dengan keunikan. Itulah  sebabnya ada pepatah yang mengatakan “Mendidik Anak Bagaikan Mengukir di Atas Batu”. Dengan kata lain pendidikan anak dunia yang dipenuhi oleh tantangan. Akan tetapi, sekali satu ajaran terserap oleh si anak, selamanya ia akan  berfikir dan berperilaku sesuai ajaran tersebut.[6]
Pembinaan akhlak merupakan tindakan yang terpenting dan harus  dipersiapkan untuk masa depan anak usia dini. Orang tua mempunyai kewajiban  untuk menanamkan akhlaqul karimah pada anak-anaknya yang dapat  membahagiakan dialam kehidupan dunia dan akhirat.[7]
 Dalam keluarga pendidikan  akhlaqul karimah sangat penting bagi orang tua untuk anak-anaknya, sebagaimana dalam firman Allah:
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ  
 “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang  ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang  bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku  dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu akan kembali.[8]
Dalam ayat tersebut telah menunjukkan dan menjelaskan bahwa tekanan  utama pendidikan keluarga dalam Islam adalah pendidikan akhlak, yaitu dengan  jalan melatih anak membiasakan hal-hal yang baik, menghormati kedua orang tua, bertingkah laku sopan baik dalam perilaku keseharian maupun dalam bertutur  kata. [9]
Karena itu dengan berbagai cara  para orang tua dalam mendidik dan  membina akhlak anak-anaknya yang masih usia dini. Para orang tua yang merasa  tidak cukup anak-anaknya dibina  dirumah, mereka berlomba-lomba  memasukkannya ke tempat penitipan anak, Taman kanak-kanak, bahkan pondokpondok pesantren. Dengan demikian tugas terpenting bagi seorang guru atau  pendidik terhadap anak adalah senantiasa menasehati dan membina akhlak  mereka, serta membimbing agar tujuan  utama mereka dalam menuntut ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. 
Hal ini sesuai dengan tujuan Rasul sebagai guru dan pendidik manusia  yang amat agung dan mulia yakni untuk mendidik dan membina akhlak  manusia.[10]
 Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya”  Sesungguhnya saya diutus Allah di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak  manusia”.     Oleh karena itu, seorang guru hendaknya dapat memilih strategi  pembelajaran  yang tepat untuk membina akhlak anak usia dini. Strategi yang  dipilih harus menyenangkan dan tidak membosankan bagi anak TK. Salah satunya  menggunakan strategi BCM (Bermain, Cerita, Menyanyi). Karena sesuai dengan  pendidikan di TK yang dilaksanakan dengan tehnik bermain sambil belajar.   
Melalui permainan kreatif dalam PAUD, anak belajar banyak cara. Anakanak tidak dapat belajar  secara optimal jika merasa bosan, mengantuk, lapar, takut, atau bingung dengan yang sedang terjadi. Karena itu, pendidikan anak  untuk usia dini harus menciptakan suasana bermain melalui permainan kreatif  sesuai dengan cara-cara belajar yang biasa anak-anak alami dalam hidup mereka  sehari-hari yang juga harus didukung lingkungan belajar yang aman dan tidak  membuat mereka takut. Perlu strategi dalam mengelola permainan yang kreatif  agar dapat tercipta lingkungan belajar yang aktif, kreatif, aman, menggembirakan,  dan efektif. [11]
Metode bercerita dan menyanyi juga merupakan metode pembelajaran  yang banyak digunakan di TK. Pembelajaran tersebut juga sangat penting di  kehidupan dunia anak-anak usia dini.[12]
 Kegiatan bercerita juga memberikan  sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral, dan keagamaan. Kegiatan bercerita  memberikan pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan. Melalui  mendengarkan anak memperoleh bermacam-macam informasi tentang  pengetahuan, nilai, sikap, untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan seharihari.
Kemudian melalui menyanyi, anak juga akan belajar menghafal dan  menghayati lagu-lagu yang dinyanyikan bersama. Misalnya, lagu rukun iman, rukun islam, lagu yang berisi adab didalam kelas, dan lain sebagainya.     Demikian juga di Roudhotul Athfal  PSM “Pesantren Sabiilil Muttaqin”  Jeli Karangrejo Tulungagung yang menggunakan pembelajaran bermain, cerita  dan menyanyi. Guru membina akhlak anak-anak dengan pembelajaran tersebut.
  Sehingga hasilnya secara tidak langsung anak akan mendapatkan pelajaran  tentang perilaku baik dan buruk atau akhlak lainnya melalui pembelajaran yang  menarik dan menyenangkan. Yaitu dengan mengambil manfaat dari pembelajaran  BCM (bermain, cerita dan menyanyi).    
Berdasarkan pernyataan analisa sementara, peneliti tertarik dengan objek  tersebut. Oleh karena itu penelitian ini diberi judul “Strategi Pembelajaran BCM  (Bermain Cerita dan Menyanyi) Dalam Membina Akhlak Anak Usia Dini di  Roudhotul Athfal PSM “Pesantren Sabiilil Muttaqin” Jeli Karangrejo  Tulungagung”.
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa  masalah yang akan dibahas yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan strategi pembelajaran BCM  yang dilakukan guru  dalam membina akhlak anak usia dini di RA Pesantren Sabiilil Muttaqin  Jeli Karangrejo Tulungagung?
2. Apa saja yang menjadi faktor hambatan guru dalam melaksanakan strategi  pembelajaran BCM untuk membina akhlak anak usia dini di RA Pesantren  Sabiilil Muttaqin  Jeli Karangrejo Tulungagung?
3. Bagaimana solusi dari hambatan-hambatan pelaksanaan strategi  pembelajaran BCM dalam membina akhlak anak usia di RA Pesantren  Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo Tulungagung?                                              
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dalam penelitian ini ada  beberapa tujuan yang akan dicapai diantaranya sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan strategi pembelajaran  BCM yang dilakukan guru dalam membina  akhlak anak usia dini di RA  Pesantren Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo Tulungagung?
2. Untuk mendeskripsikan apa saja yang menjadi faktor hambatan guru
dalam melaksanakan strategi pembelajaran BCM untuk membina akhlak  anak usia dini di RA Pesantren Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo  Tulungagung?
3. Untuk mendeskripsikan bagaimana solusi dari hambatan-hambatan  pelaksanaan strategi pembelajaran BCM dalam membina akhlak anak usia  dini di RA PSM Pesantren Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo  Tulungagung?  
Secara praktis kegunaan dari pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Peneliti
1.      Sebagai persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan di Jurusan  PAI,   Fakultas Tarbiyah UIN Malang
2.      Sebagai wahana dalam meningkatkan kompetensi dalam hal penelitian  dan penulisan serta ilmu pengetahuan
3.      Sebagai pedoman di dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik 
4.      Sebagai bekal kelak menjadi seorang ibu untuk mendidik anak-anak.   


b. Bagi Lembaga
1.      Sebagai bahan rujukan dan evaluasi dalam mengambil keputusan  dalam kegiatan belajar mengajar
2.      Sebagai referensi dalam melakukan pembenahan-pembenahan dan  pengembangan-pengembangan dalam pendekatan pembelajaran
c. Bagi Masyarakat
1.      Sebagai in-put dalam pelaksanaan pembenahan-pembenahan dan  pengembangan-pengembangan dalam proses belajar di luar sekolah 
2.      Menumbuhkan kesadaran dan semangat  masyarakat agar berpartisipasi  dalam kegiatan pendidikan
3.      Menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini.  
D. Penegasan Istilah
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang arah penulisan skripsi ini peneliti akan menjelaskan terlebih  dahulu kata kunci yang terdapat dalam  pembahasan ini.



1. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah suatu  kegiatan pembelajaran yang harus  dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2. Pengertian Metode BCM
Metode BCM adalah serangkaian kegiatan berupa bermain, cerita, menyanyi yang divariasikan dalam satu kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, dan dapat digunakan untuk  mencapai tujuan pembelajaran  tertentu. 
3. Pengertian akhlak 
Akhlak adalah budi pekerti, kesusilaan, sopan-santun dalam bahasa Indonesia,  dan tidak berbeda dengan arti kata moral, ethnic dalam bahasa inggris. Dalam  bahasa Yunani, pengertian akhlak ini dipakai dengan kata ethos, ethikos, yang  kemudian menjadi ethika (pakai h),  etika (tanpa h) dalam istilah bahasa  Indonesia.
4. Pengertian anak usia dini
Anak Usia dini adalah anak yang berusia 2 – 6 tahun, yang berada pada tahap  perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki karakteristik berpikir  konkrit, realisme, sederhana, animism, sentrasi, dan memiliki daya imajinasi  yang kaya.

E. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Pembahasan penelitian ini tidak lepas dari ruang lingkup pembahasan. Hal ini untuk menghindari kesimpangsiuran  dalam pembahasan, sehingga dapat mengarah kepada pokok bahasan yang ingin dicapai.
Karena rumusan masalah pada penelitian ini terdiri atas 3 strategi yaitu  bermain, cerita dan menyanyi, maka dua strategi yaitu cerita dan menyanyi di  Taman kanak-kanak ada yang dikategorikan dalam ruang lingkup bermain, serta  ruang lingkup dalam penelitian ini akan di batasi pada:
1.      Pelaksanaan pembelajaran BCM yang dilakukan guru dalam membina  akhlak anak usia dini di RA Pesantren Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo  Tulungagung.
2.      Faktor hambatan guru dalam melaksanakan pembelajaran BCM dalam membina akhlak anak usia dini di  RA Pesantren Sabiilil Muttaqin Jeli Karangrejo Tulungagung.
3.      Solusi dari hambatan-hambatan pelaksanaan strategi pembelajaran BCM  dalam membina akhlak anak usia dini di RA Pesantren Sabiilil Muttaqin  Jeli Karangrejo Tulungagung.


F.  Sistematika Pembahasan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab. Adapun  rinciannya sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan  masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, ruang lingkup  penelitian, dan sistematika pembahasan. 
Bab II  : Tinjauan Pustaka, yang terdiri uraian teori-teori mengenai BCM  (bermain, cerita, menyanyi) dan pembinaan akhlak anak usia dini 
Bab III  : Metodologi Penelitian, membahas tentang metode yang  digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari jenis penelitian,  sumber data, tehnik pengumpulan  data, metode analisis data,  pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian. 
Bab IV  : Laporan Hasil Penelitian, yaitu peneliti menguraikan hasil temuan   penelitian yang terdiri dari sekilas tentang laporan penelitian  yang terdiri dari penyajian data yang digunakan sebagai  pemberian jawaban masalah dan pembahasan dari laporan hasil  penelitian.  
Bab V  : Pembahasan Hasil Penelitian, yaitu peneliti mengkaji ulang  laporan hasil penelitian dan menguraikan jawaban secara  keseluruhan dari masalah yang diambil. 
Bab VI  : Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran. Peneliti  menyimpulkan secara keseluruhan kemudian memberikan saran  sebagai perbaikan dari kekurangan peneliti.


[1] Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. (Kencana: Jakarta) hlm. 124
[2] Reni Akbar, Hawadi. 2006.  Psikologi Perkembangan Anak.  (PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta) hlm. 4-6

[3] Hariwijaya, Bertian Eka S. 2009. PAUD;  Melejitkan Potensi Anak dengan Pendidikan Sejak Dini. (Mahaddhika Publishing) hlm. 13
[4] Rose Mini, Prianto. 2003. Perilaku Anak Usia Dini. (KANISIUS, Yogjakarta) hlm. 47 

[5] Wahyudi, Dwi Retna Damayanti. 2005 .Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam. (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta) hlm 2-3                                                
[6] Mahmud Al-Khal’awi, Said Mursi. 2007. Mendidik Anak dengan Cerdas. (Insan Kamil; Solo)
[7] Khalik Al-Musawi. 1999. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda. (Lentera: Jakarta) hlm. 21

[8] Depag RI. 2006. Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahnya, (Maghfiroh Pustaka: Jakarta) QS. Lukman Ayat 14 
[9] Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. (Pustaka Pelajar: Jogjakarta) Hlm. 324-325

[10] Mansur. Ibid .hlm 289
[11] Igrea Siswanto. 2008. Mendidik Anak dengan Permainan Kreatif (Bermain sambil belajar untuk mengembangkan Kecerdasan Majemuk Sejak Usia Dini) (Penerbit ANDI, Yogjakarta) hlm. 10
[12] Moeslichatoen R. .1998, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak (PT. Rineka Cipta) hlm. 15                                    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar